Tragedi Gajah yang Terpenggal Sejarah

oleh -256 views

Pidato politik yang nyaris tidak berenergi. Padahal bisa dibilang kongres parpol super terbuka yang dibawanya itu ada di rumahnya sendiri. Ditunggui bapak ibu dan keluarganya pula. Tapi kenapa pidato politiknya tidak berapi-api sebagaimana jiwa muda, bro? Ada apa denganmu? Ayo jawab dengan terbuka saja.

Tatakala pertama kalinya saya menjumpai logo parpol baru itu yang tepat berada di samping aliran sungai menuju Bengawan Solo, saya langsung tersenyum simpul. Auto reflek saya merasa lega. Ada makna yang seolah disampaikan kepada dunia: matinya gajah kami.

Kaesang bukanlah anak keturunan Gesang, pencipta syair Bengawan Solo yang melegenda. Gesang (Jawa) berarti hidup. Lawan kata hidup adalah mati.

Baca Juga  Remaja 16 Tahun di Tobelo Dilaporkan Hilang, Polisi Minta Bantuan Masyarakat

Gesang menjadi salah satu maestro musik keroncong Indonesia dan namanya mendunia. Walau Gesang sudah tiada, namun energi dan syairnya masih ada dan melegenda. Gesang berpulang kepada Sang Pencipta meninggalkan legacy.

Kembali ke makna dari simbolisasi parpol super terbuka itu tadi. Sekali lagi, ini terjemahan bebas. Bebas itu terbuka. Siapa saja boleh berkata dan membacanya. Gajah mati apa karena ditingal pergi tuannya? Lagi-lagi, jangan tanya saya.

Terakhir, jika kemarin saya berkesempatan bertemu muka dengan Bro Kaesang maka saya hanya ingin bertanya,”Bro, partaimu ini kan partai terbuka. Katanya super terbuka. Aku mau tanya, nih. Publik menduga bila ijazah S1 bapakmu itu palsu. Yang benar itu asli atau palsu, bro? Tolong jawab dengan terbuka. Biarkan kami jadi gembira dan lega dengan keterbukaanmu. Kami butuh jawabanmu, bro. Kami akan bahagia walau kami harus berkorban kehilangan sang gajah berkepala merah.”

No More Posts Available.

No more pages to load.