Tragedi Yuvi Cileunyi

oleh -27 views

Yang membuat hati tercekat bukan hanya luka fisiknya. Yang lebih menggetarkan adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut korban ketika mulai mampu berkomunikasi. “Saya mohon maaf,” katanya. Bukan keluhan. Bukan kemarahan. Bukan tuntutan keadilan. Permintaan maaf.

Kalimat itu terasa seperti cermin retak yang memantulkan wajah kemanusiaan kita sendiri. Mengapa seseorang yang mengalami penderitaan sedemikian rupa justru merasa perlu meminta maaf? Kepada siapa ia meminta maaf? Untuk kesalahan apa?

Psikologi trauma memiliki jawaban yang menyedihkan. Korban kekerasan yang berlangsung lama sering mengalami apa yang disebut trauma bonding, sebuah kondisi ketika korban membangun keterikatan emosional yang tidak sehat kepada pelaku.

Dalam kondisi ekstrem, korban dapat merasa dirinya bersalah atas kekerasan yang diterimanya. Ia mulai melihat dunia melalui kacamata yang dipasang oleh penyiksanya.

Ia kehilangan kepercayaan pada penilaiannya sendiri. Yang salah terasa benar, yang menyakitkan terasa wajar, dan yang paling mengerikan: korban merasa dirinya pantas menerima hukuman.

Baca Juga  Perkuat Sinergi Penanganan Pertanahan, Kepala Kantah Malteng Kunjungi Kejari

Karena itu, permintaan maaf tersebut bukan sekadar kalimat. Ia adalah bukti betapa dalam luka psikologis yang ditinggalkan kekerasan. Luka fisik dapat dijahit dokter. Tulang dapat disambung. Infeksi dapat diobati. Tetapi luka yang membuat korban meminta maaf atas penderitaannya sendiri adalah luka yang jauh lebih rumit.

No More Posts Available.

No more pages to load.