Dan mungkin di situlah letak kesedihan terbesar kisah tragis ini. Seorang perempuan keluar dari ruang gelap setelah tiga tahun penyiksaan. Ketika akhirnya bisa berbicara, ia tidak bertanya mengapa dirinya diperlakukan demikian. Ia justru meminta maaf.
Kalimat itu lebih tajam dari semua luka di tubuhnya. Karena ia menunjukkan bahwa kekerasan yang paling mengerikan bukanlah yang menghancurkan tubuh seseorang, melainkan yang berhasil meyakinkan korban bahwa dirinya pantas dihancurkan.
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 24/6/2026








