Keterus-terangan Trump dalam hal itu dipuji para pendukungnya sebagai kejujuran. Suatu antitesis dari politik diplomasi yang lazim berpura-pura. Tapi apa yang sebenarnya kita saksikan pada Trump adalah politik paska-norma. Dalam politik ini, legitimasi tak berasal dari aturan, melainkan dari kemampuan menggunakan kekuatan.
Masalahnya, sistem internasional pasca Perang Dunia II justru dirancang untuk mencegah dunia seperti itu. Selama puluhan tahun, stabilitas global bergantung pada asumsi bahwa semua negara, bahkan negara adidaya sekalipun, perlu berinteraksi dalam kerangka penghormatan terhadap norma hukum internasional.
Jika Amerika sendiri mulai menghapus kerangka itu, negara-negara lain hampir pasti akan menyesuaikan diri pada logika yang sama. Mereka tidak lagi akan berasumsi bahwa konflik akan dibatasi. Sebaliknya, dunia akan dipandang sedang bergerak menuju eskalasi yang tak mudah dikendalikan.
Dalam wawancara baru-baru ini dengan jurnalis Inggris Piers Morgan, ekonom Amerika Jeffrey Sachs menyampaikan kekhawatiran yang sangat terus terang. Dunia, katanya, sedang bergerak semakin dekat ke arah perang besar—bahkan menuju Perang Dunia Ketiga. Penyebabnya, kebijakan luar negeri Amerika yang semakin meyakini bahwa kekerasan merupakan alat utama untuk menyelesaikan konflik geopolitik.










