Porostimur.com, Weda — Ucapan Gubernur Maluku Utara Sherly Djuanda, menuai polemik di tengah situasi pascakonflik antarwarga di wilayah Sibenpopo-Banemo yang hingga kini masih menyisakan luka sosial.
Ucapan gubernur yang mempertanyakan dasar aksi penyerangan warga dinilai sebagian kalangan kurang tepat disampaikan di ruang publik, mengingat kondisi masyarakat yang masih sensitif pascainsiden bentrokan.
Dalam pernyataannya di hadapan warga, Sherly menyoroti tindakan penyerangan yang terjadi tanpa kejelasan fakta.
“Pergi serang sana karena apa? Ada bukti atau hanya karena katanya? Buktinya apa? Siapa yang bunuh? Ada yang tahu siapa yang bunuh? Belum tahu, tapi kenapa pergi serang sana? Tolong jawab,” ujarnya.
Berisiko Disalahartikan
Pernyataan tersebut langsung memantik beragam respons dari masyarakat. Sebagian menilai apa yang disampaikan gubernur bertujuan mengedukasi warga agar tidak bertindak berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
Namun di sisi lain, tidak sedikit yang khawatir penyampaian tersebut justru berpotensi menimbulkan interpretasi berbeda di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
“Kalau dilihat maksudnya mungkin baik, tapi cara penyampaiannya bisa memicu salah paham di masyarakat yang masih emosional,” ujar salah satu warga.










