Video Skandal Seks Staf Parlemen Bocor Lagi, PM Australia Dalam Tekanan

oleh -60 views
Link Banner

Porostimur.com | Canberra: Krisis yang melanda dunia politik Australia terus berkembang menyusul munculnya video yang menunjukkan para staf anggota parlemen melakukan hubungan seks di dalam gedung parlemen dan menyebabkan seorang senior dipecat. 

Bocornya video seks milik staf dari pemerintah konservatif Australia yang terlihat melakukan tindakan seks di parlemen, termasuk seorang pria yang melakukan masturbasi di atas meja anggota parlemen wanita, membuat pemerintahan Scott Morrison menghadapi skandal besar.

Salah satu video menunjukkan orang itu melakukan hubungan seks di meja seorang anggota parlemen perempuan.

Perdana Menteri Scott Morrison menyebut insiden video seks itu sebagai sesuatu yang “memalukan”.

Link Banner

Insiden ini terjadi menyusul munculnya kasus seorang mantan anggota staf yang mengungkapkan bagaimana dia takut kehilangan pekerjaannya setelah mengalami dugaan pelecehan seksual.

Brittany Higgins menuduh dia diperkosa oleh rekan senior di sebuah kantor pada Maret 2019, tetapi dia merasa tertekan untuk tidak melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Baca Juga  Korbankan Pelanggan, PLN Ranting Piru Bakal Terima Demo Berkepanjangan

Kasus tersebut memicu munculnya sejumlah tuduhan. Pekan lalu, ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes pelecehan seksual dan pelecehan terhadap perempuan di Australia.

Melansir South China Morning Post, Selasa (23/3/2021), Perdana Menteri Scott Morrison sudah berada di bawah tekanan karena menangani tuduhan pelecehan seksual termasuk bahwa seorang penasihat pemerintah wanita telah diperkosa oleh seorang rekannya.

Video dan foto, yang diduga telah dibagikan dalam obrolan grup staf pemerintah koalisi sebelum dibocorkan oleh pelapor, pertama kali diungkapkan oleh surat kabar The Australian dan Channel 10 pada Senin malam.

Gambar tersebut telah memicu kemarahan baru dari anggota parlemen perempuan dan publik Australia, menyusul tuduhan pemerkosaan yang memicu protes massa nasional.  

Baca Juga  Bawaslu Malut Putuskan Tak Terima Laporan Dua Paslon Pilkada

Pelapor, yang hanya diidentifikasi sebagai Tom, mengatakan kepada outlet berita bahwa staf pemerintah dan anggota parlemen sering menggunakan musholla di Gedung Parlemen untuk berhubungan seks, dan menuduh bahwa pekerja seks telah dibawa ke dalam gedung “untuk kesenangan anggota parlemen koalisi”. 

Dia juga mengatakan sekelompok staf secara rutin bertukar foto eksplisit diri mereka sendiri dan dia menerima begitu banyak foto sehingga dia “menjadi kebal”.


Kasus Bakal Diselidiki

Bendera negara Australia - AFP Selain itu, ia mengatakan ada “budaya laki-laki yang berpikir bahwa mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan” dan sementara dia tidak berpikir para staf telah melanggar hukum apapun, “secara moral, mereka bangkrut”. 

Seorang ajudan langsung dipecat dan pemerintah menjanjikan tindakan lebih lanjut. 

Baca Juga  Harumnya Bisnis Durian Ambon di Tengah Pandemi Covid 19

Menteri Wanita Marise Payne mengatakan kepada media lokal bahwa pengungkapan terbaru “sangat mengecewakan”, sekaligus mengatakan mereka menyoroti perlunya penyelidikan atas perintah pemerintah tentang budaya tempat kerja parlemen.

Menteri Kabinet Karen Andrews mengatakan dia telah menyadari adanya seksisme dalam politik dan “hati nuraninya tidak akan lagi mengizinkannya untuk tetap diam”. 

Dia mengatakan kepada wartawan di Canberra bahwa Partai Liberal yang berkuasa harus mempertimbangkan kuota gender untuk perwakilan politiknya. 

Parlemen Australia telah berulang kali dikritik karena budaya tempat kerja yang “beracun” yang diduga telah memicu penindasan dan pelecehan seksual terhadap wanita secara terus-menerus – terutama dalam koalisi yang berkuasa.

(red/bbc/abc)