WatchDoc

oleh -315 views

Dan mereka mulai membuka hape, menonton film itu. Saya keluar makan. Sekembali saya, mereka masih menonton. Sekitar selusin remaja mengitari satu tablet.

Dari situ saya melihat sesuatu yang luar biasa. Suatu ekeperimen menggunakan media. Dan itu dilakukan dengan cerdas dan serius.

Tentu, ditengah iklim politik yang partisan, film ini juga mendapat hujatan. Kedua kubu capres tidak suka. Orang segera bertanya, siapa yang membeayai? Seakan hidup di dunia ini hanya selesai dengan uang belaka.

Ketika itu, film Sexy Killer sudah ditonton 20 juta kali di Youtube. Mungkin tidak cukup untuk menggerakkan hasil pemilu. Mungkin orang tetap memilih berdasarkan apa yang mereka yakini atau mengikut pimpinan komunitas atau ikut anjuran pemuka agamanya.

Tapi saya melihat dunia yang lain. Bahwa film ini ditonton lusinan remaja kelas bawah, yang harus bekerja menjadi pelayan toko di usia belasan, ini adalah investasi yang luar biasa untuk bangsa ini.

Baca Juga  Mengenal Slow Burn Relationship, Saat Hubungan Tumbuh Perlahan

Hasilnya tidak akan terlihat sekarang. Ia akan berbuah kemudian. Ia paling tidak akan menjadi cara pandang generasi berikut. Bukan generasi dekaden dan bangkrut yang sedang berkuasa sekarang ini.

Tepat sekali kalau WatchDoc mendapat hadiah dalam kategori “Emergent Leadership.” Paling tidak, WatchDoc akan menjadi suara lain dari suara dominan yang sekarang makin terasa sumbang (Masih ingat bahwa koruptor adalah penyintas?)

No More Posts Available.

No more pages to load.