Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Ramon Magsaysay Award tahun ini mengikutkan pemenang dari Indonesia. Dan, penerimanya mungkin tidak Anda duga. Ia adalah sebuah perusahan film dokumenter yang memakai film untuk memberikan penerangan dan kritik terhadap kekuasaan yang menyeleweng.
Saya masih ingat sehari setelah pemilihan presiden 2019. Saya berada di Lampung dan hape saya rusak. Keadaan itu memaksa saya untuk mampir di sebuah dealer merk Hape di Lampung. Tidak ada pembeli. Saya satu-satunya yang mampir ke toko itu.
Sementara, banyak sekali anak-anak muda yang menjadi karyawan toko itu. Mereka saling bercerita bagimana mereka memilih. Saya cuman mendengarkan saja.
“Eh kamu kemarin coblos siapa?” Ada yang mencoblos Jokowi, tidak sedikit pula yang mencoblos Prabowo. Tiba-tiba seorang anak perempuan disana bertanya, “Ada yang udah nonton Sexy Killers, nggak?”
Ternyata ada yang sudah menonton. “Eh seru banget lo film-nya. Nggak nyangka kalau lingkungan kita rusak banget. Iya sih awalnya filmnya kelihatannya semi porno, gitu. Tapi setelah ditonton, ini film serius lo.”
“Mau dong nonton …”












