Yang Tak Kembali

oleh -118 views

Cerpen Karya: Arnoldina Leki

Lantunan piano yang sejak tadi terdengar laras dengan serentak mengalun pelan hingga perlahan menghilang dari indra pendengaran. Ada seorang gadis di dalam ruangan itu yang tampak tidak tertarik dengan pembicaraan di sana.

“Altarayn Utara.”
“Efata Arua.”
“Dan Aram Temaram.”
“Silakan maju ke depan.” Bibi Meridian guru les piano di tempat itu berakhir menjatuhkan tatapannya kepada gadis di sudut ruangan. Aram panggilan gadis itu. Baiklah, bahkan ia dapat merasakan sekat tinggi di antara ketiganya saat Bibi Meridian terakhir melantunkan namanya.

Setiap tahun di masa kecil Aram, ia benar-benar meringkuk dalam ketakutan agar kejadian hari ini tidak pernah terjadi. Sembari memanjatkan begitu banyak doa yang entah tersampir di lintas langit mana, berharap kehidupan memberinya secuil kebahagiaan. Suam-suam kuku Aram yang kini tampak memucat dipacu lebih cepat agar latah menari di atas lantunan instrumen.

Baca Juga  Nono Sampono Cabut Gugatan, Mirati Dewaningsih Mundur, Formapi: Ini Sih Aneh

Ia tidak pernah berpikir bahwa di bawah pijakannya sendiri ia tidak bebas mengatur kemana langkah kakinya pergi. Jika diberi pilihan Aram akan memilih tanggal tercantik sebagai hari kematiannya. Cukup konyol jika kau berada dalam suasana itu.

Di bawah teduhnya langit sore Aram tampak termenung, kata-kata Rua siang tadi terdengar menyayat. Ia berniat menghampiri keduanya untuk bergabung bersama ke ruangan musik namun keberadaannya di sana hanya membawa kenyataan pahit. Aram benar-benar tergugu kenyataan yang baru saja didengarnya teramat memilukan bahkan saat ia belum siap meringkuk dari masalah sebelumnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.