You Are My Idol Abah

oleh -350 views
Toni Rosyid

Untuk mengekapresikan rasa cintanya kepada Abah, mereka “patungan”. Kumpul-kumpul uang. Mereka sewa space dan memasang videotron. Gak tanggung-tanggung. Mereka sewa space di Bundaharan HI. Ini pusatnya pusat ibu kota Jakarta. Satu lagi di Bekasi. Sayang sekali, gak begitu lama, videotron itu ditakedown. Diturunkan.

Mereka patungan lagi dan pasang lagi. Kali ini, mereka pasang di kota-kota besar lainnya. Di Surabaya, Medan dan Maluku. Mungkin akan menyusul di kota-kota besar lainnya di Indonesia. “Turun Satu Tumbuh Seribu”, kata mereka.

Kontras ! Abah mengayomi, yang lain memusuhi. Abah melindungi, yang lain menghantui. Abah mencintai, yang lain membenci. Inilah yang membedakan Abah dengan capres lainnya. Di mata mereka, Anies memang Abah yang berbeda. Ayah yang membuat mereka nyaman, bukan yang mengancam. Sangat masuk akal kalau kemudian mereka dengan sangat manja bilang: “Abah, I Love You Almost Full”

Baca Juga  Pakta Pertahanan Saudi-Turki-Pakistan Dinilai Sinyal Melemahnya Kepercayaan pada AS

Saat dimaki dengan kata “ndasmu etik” dan “bodoh”, Abah malah merespon dengan kata “Matur Muwun Pak”. Makian kepada Abah ditanggapi dengan senyum dan reaksi yang sangat tenang. Kesabaran dan kebersahajaan inilah yang menarik buat generasi Z untuk dijadikan keteladanan.

Anak-anak Gen Z ini pun rela berombongan datang ke acara “Desak Anies”. Mereka membawa foodtruck. Di saat pihak lain bagi-bagi uang dan sembako, anak-anak remaja ini justru membawa truk isi makanan. Sebuah perlawanan kreatif dan humanis ala Gen Z terhadap money politics yang dilakukan sosok lainnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.