91 Ribu Orang Teken Petisi Usut Pelaku Rasisme terhadap Mahasiswa Papua

oleh -107 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

porostimur.com | Ambon: Koalisi Masyarakat Sipil Anti Diskriminasi dan Rasialisme mengajukan petisi ‘Hentikan dan Usut Kekerasan Terhadap Mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya‘ di laman change.org.

Per tanggal 22 Agustus 2019, pukul 06.35 WIB sudah ada 91.313 orang yang menanda tangani petisi dari target tanda tangan sebanyak 150.000 tanda tangan itu.

Dalam petisi itu, koalisi menceritakan kronologi insiden di Surabaya dan Malang pada Kamis, 15 Agustus 2019. Disebutkan koalisi mahasiswa Papua di Malang telah mengalami kekerasan dan umpatan rasis.

Link Banner

“Asrama mereka dibiarkan dikepung oleh kelompok tak dikenal tersebut dan beberapa mahasiswa ditangkap paksa oleh aparat,” tulis koalisi di laman tersebut.

Mulanya, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) sedang melakukan aksi unjuk rasa damai menolak perjanjian New York 1962, yang menjadi dasar pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969. Namun aksi mereka diadang oleh sekelompok orang berpakaian preman.

Baca Juga  IKBKS Maluku Bantu Korban Kebakaran Batumerah

Ditulis dalam petisi tersebut bahwa kelompok itu meneriaki mahasiswa Papua dengan nama-nama binatang, melempari helm, batu, dan menendang. Beberapa mahasiswa Papua melawan.

“Ini menyebabkan beberapa masa aksi terkena lemparan batu dan mengalami luka serius. Tak hanya itu, 13 mahasiswa Papua ditahan aparat secara paksa.”

Pada tanggal 16 Agustus 2019 Asrama Mahasiswa Papua juga dikepung oleh tentara, Satpol PP dan ormas di Surabaya. Mahasiswa Papua dituduh merusak bendera merah putih yang telah dipasang di luar pagar asrama. “Padahal tuduhan ini tidak benar adanya,” tulis Koalisi dalam petisi.

Koalisi menuntut lima poin terkait insiden mahasiswa Papua itu. Pertama, koalisi mendesak Kapolrestabes Surabaya menghentikan aksi pengepungan, kedua mendesak Kapolrestabes Surabaya membebaskan tahanan mahasiswa Papua.

Baca Juga  DPR Minta Kapolri Buktikan Omongannya Soal Penyusup Asing di Papua

Ketiga, mendesak Kapolres Malang untuk membebaskan mahasiswa Papua yang sempat ditahan. Keempat, mendesak Kapolrestabes Surabaya dan Kapolres Malang untuk menindak provokator. Terakhir mendesak Komnas HAM untuk segera menginvestigasi insiden yang terjadi.

Keempat, Mendesak Kapolrestabes Surabaya dan Kapolres Malang untuk segera menindak provokator dan pelaku kekerasan maupun diskriminasi saat kericuhan di Surabaya dan Malang.

Kelima, Mendesak Komnas HAM untuk segera investigasi persekusi, rasialisme, dan penggunaan kekuatan berlebih atas kejadian di Surabaya dan Malang.

“Tuntutan ini didasarkan atas mimpi kami agar siapapun di Indonesia bebas untuk menyatakan pendapatnya di depan publik tanpa ada rasa takut, diperlakukan secara diskriminatif, dan potensi ditahan aparat. Sebab siapapun berhak berpendapat secara damai di Republik Indonesia ini, sesuai dengan Pasal 28E (3) dari UUD 1945”, bunyi petisi dimaksud. 

Baca Juga  Begini Cara Memilih Hijab untuk Kamu yang Berwajah Bulat

Dan juga agar siapapun yang melakukan kekerasan dan aksi diskriminatif akan mendapatkan hukuman yang setimpal agar tidak merusak perdamaian dalam masyarakat. Serta menyelesaikan potensi konflik horisontal antar masyarakat Indonesia, di Jawa maupun di Papua. (red)