Serangan udara Israel itu telah menghancurkan sebagian besar bangunan dalam jarak hingga satu kilometer di timur dan utara Jalur Gaza. Parahnya lagi, warga sipil tak berdosa ikut menjadi korban jiwa dalam setiap serangan yang muncul.
2. Tidak Paham Peta Gaza
Faktor lain yang membuat tentara Israel lemah dalam pertempuran jarak dekat adalah karena ‘buta’ dengan peta di Jalur Gaza. Hal ini sebenarnya tak mengejutkan mengingat serdadu Hamas biasa mengandalkan terowongan bawah tanah untuk mobilitasnya.
Alasan tersebut diperkuat berdasarkan pengalaman masa lalu, tepatnya saat bom penghancur bunker dan tank Merkava Israel selalu menghadapi terowongan yang penuh jebakan di Gaza. Hal tersebut kemungkinan ikut menjadi pertimbangan bagi tentara Zionis yang enggan untuk terjun langsung ke garis depan di Gaza.
3. Kalah Mental dari Pejuang Hamas
Terlepas dari tugasnya yang harus ditaati, tentara Israel tetap merasa gugup atau bahkan takut saat perang dengan serdadu Hamas. Mengutip Times of Israel, beberapa tentara Zionis di satu sisi merasa bangga karena bertugas melindungi negara, tetapi mereka juga mengaku gugup saat kondisi mencekam.
Ditempatkan di dekat perbatasan dengan Jalur Gaza yang dibombardir, seorang prajurit Israel berusia 20 tahun mengatakan bahwa dirinya “sedikit takut untuk pergi” ke wilayah yang dikuasai Hamas, bahkan jika diberi perintah. Alasan utamanya tentu karena keselamatannya yang terancam.










