4 Puisi Nuriman Bayan

oleh -63 views
Link Banner

DI HARI-HARI HUJAN BEGINI

1)
Di hari-hari hujan begini
aku ingat dada, tangan, dan kakimu
tiga bagian tak pernah tuntas aku hitung
mukanya, lukanya, dukanya, sukanya

aku harap angin tak kencang siang ini
dan kau masih ingat cara memanggil hujan
ku-ku-ku ku-ku-ku
agar ia turun sederas-derasnya
agar pohon-pohon itu
tertidur sebasah-basahnya

aku harap angin tak kencang siang ini
dan daun kelapa di tangan itu telah selesai
kau lepaskan dari mafafanya, dari tangkainya.

2)
Di hari-hari hujan begini
aku ingat daun pisang, sosiru
dan sebuah sungai di dadamu
tempat aku berenang sambil mengejar
kelapa dan patahan kayu berlari ke laut

aku harap kau masih ingat
cara memegang daun dan sosiru
seperti waktu itu saat hujan turun berderas-deras
di bawahnya tangan kita tak ingin saling melepas
padahal di mata kita banjir begitu deras.

Baca Juga  Pabrik Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik Pertama di Indonesia Resmi Beroperasi

3)
Di hari-hari hujan begini
aku cuma ingin mengajakmu pulang
kita berjalan tanpa payung
kita bergenggaman di bawah daun
seperti waktu itu kita di kebun
di bawah pohon penuh embun.

2022.

=======

JANGAN BILANG AKU TAK MERINDUKANMU

Jangan bilang malam ini aku tak merindukanmu
sebab mata lampu yang berbaris di sepanjang jalan
di antara trikora, taman kota, jalan siswa, dan mesjid raya
tak juga dapat menerangi gelapnya rindu di dalam dada

cahayanya hanya setitik lampu di lautan jauh, tak lebih terang
dari lampu stongkeng yang kau nyalakan di suatu sore, di atas laut
saat matahari kembali dan kau begitu sibuk mengikat senar dan mata kail.

Baca Juga  Ucapkan Duka Cita Atas Kepergian Briptu Faisal Helut, Kapolda: Sudahi Pertikaian di Tanah Maluku

Jangan bilang malam ini aku tak merindukanmu
sebab selain Tuhan, ibu, ayah, istri, anak, saudara, lautan, kebun, kamu, dan semua yang menyusuiku
aku tak punya rindu yang lain, aku tak punya cinta yang lain.

2022.

=======

PULANG YANG KITA BAWA PERGI

Pulang yang kembali kita bawa pergi adalah sepi yang tinggal di rumah ibu: di meja makan, di ruang tamu, di gandaria, di difan, di dego-dego, di tungku batu yang harum gonofu dan fofau, yang dipagari kayu yang beberapa patahan ibu cahi dengan saloi dengan jumlah yang foloi.

Kita pergi meninggalkan Mei di bawah hujan, dowotu, dan banjir, yang kita yakini sebagai wao majozira.

Kita pergi dengan dada yang meledak-ledak. Seperti ledakan mata ikan yang ibu goreng di suatu pagi. Seperti ledakan bambu yang ayah belah tanpa janji.

Baca Juga  Hari ini Polda Maluku Vaksinasi 172 Orang, Pakai Sinovac dan AstraZeneca

Kita pergi meninggalkan Mei dengan dada yang meledak-ledak. Seperti suara ombak yang memukul perahu ayah di suatu pagi.

Kita pergi dengan perih, dan yang tinggal di rumah ibu, hanya sepi.

Tarakani, 2022.

=======

DARI TIMUR IBU

Dari tepi pantai ini
tak banyak yang ingin kami kenang
tak banyak yang ingin kami pandang
selain mata pagi dan sebuah perahu
mata air dan mata ibu
mata cinta dan mata rindu
mata anak-anak yang ingin tumbuh dengan damai
dengan sabua, babari, dan roriyo
dengan hati yang bersih penuh kasih.

Sungguh,
tak banyak yang ingin kami kenang
sebab di dalam hati kami, hanya ada cinta.

2022.

=======

No More Posts Available.

No more pages to load.