Oleh: Abdullah Suailo, Aktivis IMM Maluku
IKATAN Mahasiswa Muhammadiyah ( IMM ) sebagai oraginiasi mahasiswa yang lahir pada tanggal 14 Maret 1964 yang digagas oleh ayahanda Jasman Alkindi, Rosat Saleh, dan Sudibjo Markus bukan lagi organisasi kemarin sore.
IMM telah melewati berbagai tantangan zaman, mulai dari fase orde lama, orde baru, sampai pada fase revormasi sekarang ini, sudah pastinya IMM telah matang dalam dinamika politik kebangsaan. Sebagai organisasi mahasiswa yang telah mamasuki usia senja, pastinya akan diperhadapkan dengan berbagai masalah internal.
Wajar saja ketika hari ini IMM banyak dikritik oleh para alumninya, mulai dari gerakan IMM yang telah disusupi pihak luar, yang dengan sengaja membunuh nalar kritis gerakan kader dan kepentingan pragmatis lainnya.
Sebagai organisasi mahasiswa yang independen sudah seharusnya khitoh perjuangan IMM dikembalikan pada spirit perjuangannya. IMM sebagai organisasi intelektual yang jauh dari politik praktis, mampu menempatkan diri pada posisi sebagai organisasi yang berbasis intelektual, mandiri dalam gerakan tanpa didompleng oleh kekuasaan.
Kemandirian serta komitmen dalam mengawal berbagai bentuk kebijakan kekuasaan, harusnya diimbangi dengan kematangan intelektual serta idealisme kader yang menjadikan IMM sebagai organisasi yang mandiri, bukan organisasi yang sarat dengan kepentingan politik praktis.









