7 Hari Kepergian Adinda Irfan Ahmad

oleh -5 Dilihat

Baginya, sejarah bukan sekadar deretan peristiwa yang diingat, tetapi juga sesuatu yang harus ditemukan, ditafsirkan, dan dihidupkan kembali dalam kesadaran manusia. Ia melihat kota bukan hanya sebagai ruang fisik, melainkan sebagai konstruksi sosial—hasil dari perjalanan panjang manusia, dari masa silam menuju masa depan.

Dalam pandangannya yang jernih, kehidupan manusia sendiri adalah mata rantai sejarah itu: lahir, tumbuh, berkembang, lalu kembali. Sejauh apa pun langkah kita, tak akan pernah melampaui garis takdir yang telah ditetapkan Allah SWT.

Kata-Kata yang Menemukan Rumahnya

Irfan bukan hanya seorang pengajar. Ia adalah perawat kata-kata. Dalam diskusi-diskusi kami, ia kerap menghadirkan kutipan yang terasa seperti doa yang disamarkan dalam bahasa sastra:

“Dari bumi, luka tidak selalu berarti kematian. Ia bisa menjadi tempat kata tumbuh, tempat nyawa mencari arah. Jika suatu hari aku tiada, biarlah kata-kata ini kembali ke tanah.”

Kini, kalimat itu menemukan maknanya sendiri. Kepergiannya seolah menjadi penegasan bahwa kata-kata memang punya takdirnya: kembali ke asal, menyatu dengan sunyi, lalu hidup abadi dalam ingatan mereka yang pernah disentuhnya.

Baca Juga  Debut Emil Audero Dihujani Serangan Real Madrid, Rayo Vallecano Kalah 1-4

Kehilangan dan Keabadian

Kepergian Irfan Ahmad bukan sekadar kehilangan seorang sahabat. Ia adalah kehilangan atas satu nyala pemikiran, satu suara jujur yang mencoba memahami dunia dengan cara yang sederhana namun mendalam.

Namun, seperti yang ia yakini, sejarah tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berubah bentuk. Dan mungkin, Irfan kini telah menjadi bagian dari sejarah itu sendiri—hidup dalam ingatan, dalam tulisan, dalam gagasan yang pernah ia tanamkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.