75 Tahun Erros Djarot: Melawan Dengan Kata

oleh -392 views

Oleh: Lukas Luwarso, Kolumnis

Dalam lanskap seni musik, film, jurnalisme, aktivisme serta kebudayaan di Indonesia, tak banyak nama yang bisa menorehkan jejak sedalam dan seberagam Erros Djarot (ED). Hari ini, di usia 75 tahun, ia masih berdiri tegak sebagai salah satu sosok berpengaruh yang pernah lahir di Indonesia.

Sosok sutradara film, komposer, produser musik, aktivis, penulis dan pemikir yang berbagai karyanya mewarnai perjalanan Indonesia lebih dari 55 tahun terakhir. Perkenalan saya dengan ED, secara lebih dekat, terjalin ketika menghadiri Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Yogyakarta, pada pertengahan 1995. Tentu, saya sudah tahu namanya sebagai pemimpin redaksi Detik, komposer dan sutradara. Saat itu saya jurnalis muda yang terpilih memimpin AJI pada kongres 1997.

Baca Juga  Portugal Ditahan Kongo 1-1, Dominasi Tanpa Ketajaman Bikin Frustrasi

ED dikenal sebagai figur strategis dan ideologis di balik perlawanan dan manuver Megawati menjadi tokoh oposisi. Ia juga aktif menggalang kekuatan aktivis dan jurnalis dalam menghadapi represi kekuasaan Orde Baru. Setelah peristiwa Kudatuli 1996, ED selain aktif membangun fondasi PDIP juga menempa etos oposisi Megawati. Mengubah Mega dari seorang ibu rumah tangga biasa, menjadi simbol perlawanan politik.

Rangkaian perlawanan ED, melalui Detik, AJI, termasuk menggalang gerakan mahasiswa, civil society, dan melalui PDIP sedikit banyak ikut menyumbang munculnya gerakan Reformasi 1998 . Gerakan yang menumbangkan, memaksa mundur, Soeharto.

No More Posts Available.

No more pages to load.