Oleh: Khairuz Salampessy, Pegiat lingkungan
Di atas langit Masohi, bulan tetap bersinar. Tapi sinarnya kini terasa jauh, seperti enggan menyentuh tanah yang dulu penuh harap. Di bawah cahayanya, rumah sakit yang kami banggakan berdiri, tapi kini tampak ringkih, seperti tubuh yang lelah namun tak boleh tumbang.
Di lorong-lorong RSUD Masohi, angin malam membawa suara tangis yang ditahan. Mama-mama dari Laimu, hingga anak-anak dari TNS dan Waipia, datang dengan harap, pulang dengan kecewa. Obat tiada. Alat rusak. Dokter ada tapi dibatasi keadaan. Apa yang bisa mereka buat, kalau tuntutan terus datang tapi terhadang peralatan dan obat-obatan yang terbatas bahkan habis?
Ini bukan salah satu atau dua orang. Ini luka yang sudah ada bertahun – tahun. Tapi luka itu belum membusuk. Sedikit tercium bau tak enak, beberapa tukang ojek di Apui menciumnya. Mereka bilang rumah sakit sedang sakit, tapi mereka masih punya harapan. Masih percaya, bulan bisa kembali terang di atas kota ini. Diatas RSUD Kota Masohi.
Tuan Bupati Ozan Awat Amir,
Bulan yang baru naik di langit Maluku Tengah juga bersamaan dengan langkah baru Anda. Kami tahu, jadi pemimpin bukan hal gampang. Tapi kepada siapa lagi bisa kami titipkan negeri ini kalau bukan pada orang yang kini dipercayakan oleh suara rakyat?








