Porostimur.com, Tidore – Wacana pemekaran Sofifi menjadi daerah otonomi baru (DOB) di Provinsi Maluku Utara kembali memantik polemik. Meskipun ada sejumlah warga yang mendukung langkah itu, penolakan keras datang dari Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dan Kesultanan Tidore, yang menilai bahwa Sofifi adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan harga diri orang Tidore.
Secara administratif, Sofifi berada di wilayah Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan. Namun, statusnya sebagai ibu kota Provinsi Maluku Utara justru menimbulkan dilema tersendiri.
Dorongan agar Sofifi dimekarkan sebagai DOB memicu aksi demonstrasi, termasuk aksi damai yang digelar di Kedaton Kesultanan Tidore, Kamis (7/7/2025), yang dihadiri perangkat adat, warga, hingga aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Tidore.
Dalam orasinya, Sultan Tidore, Husain Sjah, menyampaikan kekhawatiran mendalam atas wacana tersebut. “Jadi yang mengaku orang Tidore, jangan tidur terlelap dengan suasana ini,” serunya dengan nada emosional.
Wali Kota Sinen: Sofifi Adalah Harga Diri Leluhur Tidore
Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, tak tinggal diam. Dalam aksi damai tersebut, ia menyatakan penolakan secara tegas terhadap usulan pemekaran Sofifi.
Menurutnya, rencana ini bukan hanya soal administrasi, melainkan menyangkut martabat dan identitas sejarah masyarakat Tidore.









