Cerpen Karya: Hafida Nurfa
“Untuk sayap yang patah, karena mereka yang hanya singgah.”
Cewek itu bergumam lirih, tersenyum kecut sembari mengelus burung peliharaannya. Love bird. “Iya kan Bei, aku benar kan?” Bei, burung kesayangannya itu berkicau riang tanpa tau bahwa tuannya sedang bersedih. Cewek itu terkekeh, “makasih mau dengerin aku Bei. Aku masuk dulu ya.”
“Aylana!”
Ia menoleh, mendapati bibinya sedang memegang kantong plastik berukuran besar yang ia tebak berisi kebutuhan sehari-hari. “Ini taro meja makan ya. Bibi mau ngecek kebun.”
Aylana mengangguk patuh, menerima kantong itu. Lalu segera melaksanakan ucapan Bibinya.
Aylana atau Aylana Larasati namanya. Si pemilik kulit pucat. Pendiam dan misterius. Setidaknya menurut para siswa-siswi SMA Putih Karya. Lana yang selalu berangkat pagi-pagi sekali dan yang paling terakhir meninggalkan sekolah. Lana si penebar rasa dingin. Setiap kali ia ada, pasti selalu dingin. Lana si cewek remaja yang membenci keramaian dan penyuka kesunyian. Lana si pemilik sayap indah namun sayangnya sayap itu telah lama patah.
“Eh itu kan Lana…”
“Gue heran, makin hari dia makin aneh aja.”
“Itu dia manusia bukan si? Pucet banget gila.”
“Ehh tapi ya gue waktu itu kan abis ekstra jam 5 sore, nah gue denger suara nyanyi. Sumpah, suaranya enak banget.”
“Terus?”
“Gue rasa Lana yang nyanyi.”
“Emang lo tau suaranya? Udah kayak orang bisu dia.”
“Ga tau kenapa gue yakin kalo itu dia sih.”





