
Oleh: Asgar Saleh
Layar bioskop. 22 hari terombang ambing di angkasa luar, stok oksigen menipis, apa yang bisa dilakukan. Namanya Iron Man, tetapi tak punya kekuatan. Meski masih suka bikin gagarap, tokh Tony Stark, sang Iron Man tak bisa bersembunyi dari kegetiran.
Matanya nyaris tertutup rapat. Bahunya ringkih. Tubuhnya kurus ceking. Ia sudah yakin berhenti berperang. Karena itu, Ia menolak bercerita apapun, tentang masa lalu dan apa yang telah diperjuangkan.
Tak seperti film Marvel lainnya yang megah dan penuh heroisme, Avengers Endgame menyajikan sisi lain. Tak ada optimisme. Sosok superhero yang merajai imajinasi publik tak mentas. Dalam film terakhir ini yang merunut kembali sukses dan kedigdayaan para superhero, Marvel memilih sebuah antiklimaks yang getir namun manis. Para sosok pahlawan ini bukan lagi seleb yang tak pernah kalah. Ada keletihan. Mereka sejatinya ternyata cuma manusia. Punya sisi lemah. Tak bisa move on. Yang pasti bingung.
Kebingungan itulah yang nampak di wajah Messi, superhero bagi sebagian publik yang terus bermimpi akan bikin keajaiban. Saat Roddy Alberto Zamrano, tukang masak asal Ecuador meniup peluit akhir di Belo Horizonte Stadion, Messi dan para pengagumnya jelas berharap ada Kapten Marvel yang datang menolong. Mirip penyelamatan terhadap Iron Man. Sayangnya Marvel tak lagi berproduksi. Jadi, yang ada hanya kekecewaan. Mengutuk tendangan superhero yang hanya menemui tiang gawang Alisson Becker.




