Brazil di Copa America tahun ini jadi kandidat serius justru karena Neymar tak bermain. Jika ada Neymar, Samba nyaris sama dengan Tango saat Messi ada. Dalam beberapa insiden, kepemimpinan Messi bahkan tersembunyi di balik Mascherano atau Aquero. Pemimpin di lapangan harus jadi motivator. Harus bicara kepada sesama pemain, memberi semangat, menjadi penggugat utama di hadapan wasit saat timnya dirugikan. Messi? Lebih banyak mou dan bersembunyi.
Kegagalan Argentina di Copa America tahun ini mestinya mengisyaratkan pesan penting. Sudah saatnya Messi pensiun. Di usia 32 tahun, tak lagi ada optimisme. Namanya akan dikenang seperti Zico, Gary Lineker, Paulo Maldini, Eric Cantona, Ryan Giggs, Hristo Stoichov atau dewa kaki kiri lainnya yang bergelar Maradona dari Balkan, Georghe Hagi. Superhero di klub tapi moco balakaci di TimNas. Di banding Ronaldo yang berjaya dengan juara Eropa serta UEFA Nation Leaque saja Messi sudah tertinggal. Karena itu, saya berharap, Ballon D’Or tahun ini tak lagi memasukkan nama Messi. Lebih baik pilih Virgil Van Dijk atau bahkan Ronaldo.
Jika kegetiran atau kegagalan terlalu sering mampir, ada baiknya kita mengingat nasehat Nasruddin Hoja. Dalam buku selera humor yang diberi salah seorang fans Argentina seminggu lalu, Hoja bercerita. Suatu ketika, datanglah seorang anak muda yang menangis sesunggukan. Di hadapan sufi jenaka ini, anak muda itu curhat soal hidupnya yang susah dan terus dilanda kemalangan. Hartanya habis, temanpun pada berpaling. Padahal sebelumnya saat masih kaya, banyak teman yang datang, harta berlimpah.
“Bagaimana caranya saya menghadapi ini”, ratap pemuda itu.




