Agama Sampah

oleh -201 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Secara perlahan keadaan pun diharap berubah. Ketika tersedia ember khusus, tong pemilahan, pengangkutan rutin, dan fasilitas pengolahan, warga mulai ikut bergerak.

Sampah organik diolah. Bau berkurang. Lingkungan terasa lebih sehat. Ternyata manusia bukan tidak peduli. Kadang mereka hanya perlu sistem yang jelas dan contoh nyata.

Di sinilah letak masalah terbesar negeri ini: kita terlalu sering membangun slogan, tetapi lupa membangun kebiasaan. Pemerintah rajin membuat jargon “go green”, “zero waste”, “smart city”, seolah semua persoalan bisa selesai dengan baliho dan seminar hotel berbintang.

Padahal perubahan perilaku itu tidak lahir dari spanduk. Ia lahir dari pembiasaan, keteladanan, fasilitas, disiplin, dan pengawasan yang konsisten.

Sebab sampah sejatinya bukan cuma urusan plastik dan sisa makanan. Ia cermin peradaban.

Baca Juga  Gunung Dukono Kembali Meletus Dua Kali, Kolom Abu Capai 2.700 Meter

Cara sebuah masyarakat memperlakukan sampah menunjukkan cara mereka memperlakukan masa depan. Bangsa yang tak mampu mengurus sampah biasanya juga sulit mengurus korupsi, tata kota, bahkan moral publik. Semuanya menumpuk. Semuanya menunggu meledak.

Ironisnya, selama ini kita hidup dalam budaya “lempar”. Sampah dilempar ke sungai. Tanggung jawab dilempar ke pemerintah. Pemerintah melempar ke dinas. Dinas melempar ke petugas lapangan.

No More Posts Available.

No more pages to load.