Agama Sampah

oleh -100 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Akhirnya yang bekerja hanya truk sampah dan tukang sapu jalanan, sementara jutaan warga merasa dirinya sekadar penonton dalam drama ekologis nasional.

Padahal kalau mau jujur, sampah Jakarta bukan hanya berasal dari dapur rumah tangga. Ada sampah konsumtif, sampah industri, sampah gaya hidup, bahkan sampah politik.

Kota ini dipenuhi kemasan sekali pakai, pusat belanja raksasa, budaya belanja impulsif, dan festival konsumsi tanpa jeda. Kita diajari membeli lebih banyak, memakai lebih cepat, membuang lebih sering. Kapitalisme modern memang punya bakat luar biasa: mengubah bumi menjadi tempat pembuangan dengan cicilan digital.

Karena itu, kewajiban memilah sampah sebenarnya bukan sekadar aturan teknis. Ia latihan peradaban. Latihan kecil agar manusia belajar bertanggung jawab atas jejak hidupnya sendiri. Sebab selama ini kita terbiasa menikmati barang tanpa mau memikirkan ke mana sisa-sisanya pergi.

Dan mungkin itu sebabnya acara pencanangan harus dibuat meriah dengan musik. Karena melawan sampah memang butuh energi besar.

Baca Juga  Wabup Helmi Umar Muchsin Ditunjuk Jadi Plh Bupati Halsel Saat Bassam Kasuba Naik Haji

Ini bukan perang sehari dua hari. Ini perang melawan kebiasaan malas, budaya instan, dan mental “yang penting bukan saya”. Perang panjang antara kesadaran dan kenyamanan.

No More Posts Available.

No more pages to load.