Dunia terus berputar, tak peduli bahwa aku sedang tak mampu mengimbangi kecepatan rotasinya. Kesulitan akan hidup, kegagalan, dan masih banyak hal menyedihkan lainnya merupakan bumbu kehidupan, tanpa bumbu itu, hidup hanyalah sekadar bernapas, hambar. Itulah yang aku pahami selama hampir seperempat abad menjadi manusia. Rasa sakit akan penolakan secara tidak langsung bertahun-tahun lalu tak ada artinya bagiku sekarang. Aku berpikir bahwa saat itu memang masanya aku merasakan patah hati, layaknya remaja pada umumnya. Jadi, tak sepantasnya aku membenci dia.
Aku menatap undangan yang tergeletak di atas meja. Aldi baru saja mengantarkannya, katanya dia sengaja memberikan undangan pernikahannya secara langsung kepadaku. Aku tersenyum ketika menyambut kedatangannya, dia masih seperti dulu, tidak tampak berbeda sama sekali meskipun badannya bertambah tinggi, dia sudah menjadi dokter sekarang.
“Aku minta maaf sama kamu karena saat itu aku bertingkah gak sopan.” Katanya tulus
“Gak apa-apa lagian itu juga udah lama, btw makasih ya udah ngundang aku.” Kataku, dia tersenyum.
“Iya, jangan lupa dateng ya.” Aku mengangguk, matanya menatapku. Kilasan balik akan masa lalu menyerangku tiba-tiba, aku teringat akan jalan yang biasa aku lewati bersamanya dulu, cerita-ceritanya dan tawanya.









