Aku, Kamu dan Senja Kala itu

oleh -18 Dilihat

Pandanganku beralih, aku menatap beberapa potret yang tertempel di dinding samping jendela, poto-poto itu tak sedikitpun luntur, masih bagus seperti pertama kali dicetak. Kebanyakan potret itu berisikan aku dan para sahabatku, aku mengingat betul momen ketika potret-potret ini diambil, suara tawa teman-temanku, candaan mereka dan senyum mereka masih tetap aku simpan rapi di memori hatiku yang paling dalam. Aku merindukan mereka, terakhir kali aku bertemu mereka adalah beberapa bulan yang lalu, sulit mencari waktu untuk saling bertemu sekarang, tentunya karena sebagian dari mereka sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari sini, sebagian lagi sibuk bekerja dan memperkaya diri, seperti aku.

Aku tersenyum getir ketika menatap poto paling bawah, lama sekali aku tidak memikirkan pemuda ini, apa kabarnya sekarang? Aku tidak tahu dan tak pernah ingin tahu lagi. Potret ini diambil ketika aku dan dia sama-sama menjuarai olimpiade tingkat kota saat itu, dia biologi dan aku ekonomi. Kami sengaja berfoto bersama trofi masing-masing hanya untuk kenangan saja. Foto itu adalah salah satu foto yang paling lusuh, beberapa sudutnya sudah terlipat karena dulu pernah aku buang ke tempat sampah, meskipun akhirnya aku ambil kembali karena merasa berlebihan. Padahal dia hanya teman, mengapa aku harus merasa menyedihkan ketika melihat fotonya?

No More Posts Available.

No more pages to load.