“Hai Di? Apa kabar?” tanyaku agak canggung.
“Baik.” Balasnya tanpa ekspresi.
“Nanti kuliah mau jurusan apa nih?” tanyaku lagi, berusaha mengakrabkan diri.
“Mungkin kedokteran.” Katanya, dia menoleh sedikit padaku. Tatapannya sedikit melunak, tidak sedingin tadi.
“Oh iya, menurut kamu aku pantesnya masuk jurusan apa?” tanyaku lagi
“Ya ga tau, itu kan terserah lo. Kenapa nanya gue?” katanya, dia membalas masam. Sebagian hatiku menahan sakit, mengapa dia bisa sedingin ini?
“Ya aku cuma pengen tahu saran dari kamu aja.” Kataku, dia beranjak dan tak memedulikan kata-kataku barusan. Aku bertanya-tanya mengapa dia bersikap sebegitu dinginnya. Apa yang mengubah kepeduliannya itu?.
Beberapa bulan kemudian, barulah aku tahu alasannya. Dia ternyata sudah memiliki pacar, dan pacarnya itu lah yang memaksanya untuk bersikap dingin padaku. Gadis itu benar-benar takut pacarnya terlalu dekat denganku. Dari saat itu, aku mulai menjauhinya. Sekeras mungkin aku berusaha melupakan dia, tapi tetap saja kadangkala aku meresapi rasa sakit di hati. Cinta tak terbalas memang menyakitkan. Namun, rasa sakit itu tidak selalu tentang kesedihan. Mungkin menyakitkan, tapi dari saat itu aku mulai berusaha memahami diri sampai akhirnya aku berhasil menemukan diriku sendiri.









