“Kalau bisa jangan bakar, lebih bagus. Tapi kalau harus bakar, kumpulkan di tengah, jaga api sampai benar-benar mati baru kita pulang,” pesannya.
Selain mengantisipasi kebakaran, Taborat juga meminta masyarakat tidak menebang seluruh pohon yang terdapat di kawasan perkebunan.
Menurutnya, sejumlah pohon perlu tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan sumber air.
“Kalau ada pohon di hutan atau di tempat kita bikin kebun, kalau bisa tinggalkan lima pohon. Jangan tebang semua. Karena yang kecil-kecil ini adalah harapan,” ujarnya.
Bagi Taborat, pohon-pohon kecil yang saat ini dianggap belum memberikan manfaat ekonomi justru merupakan investasi bagi generasi mendatang.
Ia mengibaratkan pohon kecil seperti seorang bayi yang membutuhkan waktu untuk tumbuh sebelum memberikan manfaat.
“Pohon kecil itu seperti bayi. Orang tua sudah pergi, tetapi bayi harus kita pelihara supaya tumbuh,” katanya.
Taborat bahkan menggambarkan besarnya dampak apabila setiap keluarga memiliki komitmen yang sama untuk mempertahankan pohon di lahan perkebunannya.
“Kalau satu keluarga memiliki satu kebun dan ada lima pohon di dalamnya, berarti sekitar seribu pohon yang kita lindungi. Itu sudah sumbangan besar untuk lingkungan dan untuk dunia,” tegasnya.










