Maka, ia membiarkan anjing terus menggong, kafilah tetap berlalu.
Karakter ini ternyata efektif membuat mereka frustrasi. Memang tidak ada ceritanya kebodohan dan keculasan mengalahkan karakter agung nan cerdas.
Bahkan kebodohan dan keculasan itu, tanpa mereka sadari, justru membuat ketokohan Anies semakin bersinar.
Karena ia jadi pembeda antara yang batil dan jahil dengan yang benar dan pandai. Anies adalah manusia “aneh”, maka untuk melawannya harus orang yang aneh pula, yakni orang-orang yang mau melawan arus, berkarakter, berilmu, dan berani melawan penindasan dan hegemoni oligarki.
Kalau Anies bukan manusia “aneh”, tidak mungkin ia mau menghentikan belasan pulau reklamasi yang dijaga koalisi oligarki politik dan ekonomi.
Toh, kalau dia bukan manusia “aneh” dan mengikuti budaya korupsi bangsa, orang akan menganggapnya normal kalau ia menerima sogokan ratusan milyar dari para pengembang pulau reklamasi asalkan ia mengizinkan proyek bernilai lima ratusan triliun dilanjutkan.
Bagaimanapun, keanehan Anies membuat kita tersentak sadar bahwa kebatilan dapat dilawan dan bahwa bangsa ini dapat keluar dari lingkaran setan oligarki ketika oligarki mulai diterima sebagai realitas kehidupan bangsa yang harus diterima.










