Dalam dokumen rencana Trump itu, terdapat bagian ekonomi yang secara eksplisit membayangkan Gaza sebagai kawasan investasi dan pembangunan, lengkap dengan hotel, pelabuhan, pembangkit listrik, dan infrastruktur kelas dunia.
Trump dan “Kesepakatan Abad Ini”: Utopia Ekonomi atau Ilusi Politik?
Dalam visi “Peace to Prosperity”, Trump dan menantunya; Jared Kushner, menjanjikan lebih dari USD50 miliar investasi internasional, sebagian besar dialokasikan ke Tepi Barat dan Jalur Gaza.
“Dengan pembangunan yang tepat, Gaza bisa menjadi seperti Singapura atau Dubai di Mediterania,” bunyi salah satu bagian rencana itu.
Namun, janji investasi tersebut bukan tanpa syarat. Palestina diminta menyerahkan beberapa tuntutan mendasar, termasuk hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah asal mereka, kedaulatan penuh atas Yerusalem Timur, dan pembentukan Negara Palestina dengan kontrol militer dan perbatasan.
Hal ini membuat banyak pihak menyebut gagasan “Gaza Riviera” bukan sebagai solusi damai, melainkan upaya membeli Palestina dengan uang, sambil tetap menjaga dominasi Israel atas wilayah strategis tersebut.
Realitas Gaza, dari Blokade hingga Bom Fosfor Israel
Gagasan “resor mewah” di Gaza segera ditanggapi dengan gelombang kritik internasional. Kenyataan di lapangan sangat jauh dari narasi pembangunan tersebut.
Menurut laporan PBB dan Human Rights Watch, sekitar 2 juta penduduk Gaza hidup dalam kondisi nyaris tidak manusiawi, angka pengangguran melonjak, 80 persen warga Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan, dan infrastruktur rusak parah akibat perang berulang kali dengan Israel, termasuk invasi darat dan serangan udara pada 2008, 2014, hingga 2023.









