Listrik di Gaza hanya menyala rata-rata 3-4 jam per hari, sistem sanitasi kolaps, dan air bersih sulit diperoleh. Bagaimana mungkin sebuah “riviera” dibangun di atas reruntuhan seperti ini?
Ironisnya, sejumlah influencer pro-Israel sempat menyebarkan gambar rekayasa pantai Gaza yang tampak bersih, anak-anak bermain bola, dan restoran di tepi laut. Narasi ini digunakan untuk membantah bahwa Gaza dalam krisis, dengan retorika semacam: “Kalau Gaza begitu miskin, mengapa mereka punya restoran mewah di tepi pantai?”
Namun, analis media menilai ini sebagai propaganda visual yang terputus dari konteks. Foto-foto tersebut menggambarkan segmen kecil dan terbatas dari wilayah Gaza yang sesekali dibuka untuk umum—dan bahkan itu pun di bawah pengawasan ketat.
“Gaza Riviera” lebih cocok disebut sebagai proyek ilusi daripada visi masa depan. Ia adalah simbol dari kegagalan komunitas internasional memahami bahwa penderitaan di Gaza bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga soal keadilan politik dan hak asasi.
Sebagai istilah, “Gaza Riviera” adalah lelucon pahit—semacam mimpi pantai surgawi yang dijual dengan brosur penuh warna, namun berdiri di atas puing-puing, tangis anak-anak, dan blokade tak berujung.









