Mahasiswa Serbia marah karena merasa ijazah mereka tak berguna selama korupsi dan kolusi mewabah. Mereka tak bisa memperoleh pekerjaan tanpa menyuap atau menjadi kroni. Sementara banyak rakyat hidup pas-pasan. Karena itu, sejak November tahun lalu mereka makan, tidur, dan masak di tempat demo. Tekad mereka agar semua kembali sesuai hukum.
Sama dengan Serbia, demokrasi Indonesia pun merosot di bawah Malaysia, Timor Leste, dan Filipina. Berdasarkan indeks demokrasi dari The Economist Intelligence Unit, situasi demokrasi Indonesia menurun selama 2024. Indeks demokrasi ini diukur berdasarkan lima dimensi: proses pemilu dan pluralisme, berfungsinya pemerintahan, partisipasi politik, budaya politik, serta kebebasan sipil (Kompas, 17/3).
Demonstrasi mahasiswa Serbia mengingatkan kita pada demonstrasi mahasiswa Indonesia bertajuk “Indonesia Gelap” yang berlangsung di beberapa kota pada Februari silam. Mereka menolak sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro-rakyat. Misalnya, kelangkaan elpiji dan kritik atas program makan bergizi gratis. Selain itu mereka juga menyuarakan berbagai isu legislasi, termasuk revisi UU Minerba, dan mendorong pengesahan UU Perampasan Aset.
Sebagaimana mahasiswa Indonesia, mahasiswa Serbia pun punya sejarah panjang gerakan mahasiswa melawan pemerintah. Sejak Serbia masih jadi bagian dari Yugoslavia, mahasiswa di sana berulang kali demo menentang pemerintah. Dulu mereka protes pada pembatasan yang diberlakukan rezim komunis. Setelah itu, mereka memprotes wabah korupsi dan demokrasi semu.









