Berbekal pelatihan yang didapatkan di Yogyakarta, ia pun mulai memproduksi minyak kelapa atau virgin coconut oil (VCO). “Memang masih belum sempurna. Namun dari sini kami banyak menghasilkan,” kata dia.
Mulanya, dia dan anggota harus bolak-balik ke Kantor Kabupaten untuk melaporkan hasil produksi. Ia merasa sangat kerepotan lantaran biaya ongkos transportasi yang mahal. Namun, sejak jaringan internet sudah ada dan lancar, ia bisa melaporkan stok barang pada dinas setempat hanya melalui grup Whatsapp.
“Dulu kami ngojek itu harus dua ojek, satu untuk barang satu untuk penumpangnya, itu Rp100 ribu sekali jalan, amat boros di ongkos. Sekarang sudah ada internet tidak perlu lagi ke kantor pemerintah, cukup kabari lewat WA,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Maluku Tenggara Feliox Bonu menambahkan, sejak ada jaringan internet, sistem controller smart farming juga sudah diperkenalkan pada para petani di wilayah setempat. Petani mulai diperkenalkan dengan sistem irigasi modern.
“Waktunya siram tanaman itu sudah diatur, petani diingatkan dan kalau sudah waktunya sistem irigasi bisa nyala sendiri dan akan menyiram tanaman mereka. Mati setelah 1 jam,” kata dia.











