BAKTI Bangun Potensi Wisata dan Alam di Maluku Tenggara

oleh -273 views

Berbekal pelatihan yang didapatkan di Yogyakarta, ia pun mulai memproduksi minyak kelapa atau virgin coconut oil (VCO). “Memang masih belum sempurna. ­Namun dari sini kami banyak menghasilkan,” kata dia.

Mulanya, dia dan anggota harus bolak-balik ke Kantor Kabupaten untuk melaporkan hasil produksi. Ia merasa sangat kerepotan lantaran biaya ongkos transportasi yang mahal. Namun, sejak jaringan internet sudah ada dan lancar, ia bisa melaporkan stok barang pada dinas setempat hanya melalui grup Whatsapp.

“Dulu kami ngojek itu harus dua ojek, satu untuk barang satu untuk penumpangnya, itu Rp100 ribu sekali jalan, amat boros di ongkos. Sekarang sudah ada internet tidak perlu lagi ke kantor pemerintah, cukup kabari lewat WA,” kata dia.

Baca Juga  Sertipikat Tanah Hilang? Ini Cara Mengurus Penerbitan Penggantinya

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Maluku Tenggara Feliox Bonu menambahkan, sejak ada jaringan internet, sistem controller smart far­ming juga sudah diperkenalkan pada para petani di wilayah setempat. Petani mulai diperkenalkan dengan sistem irigasi modern.

“Waktunya siram tanaman itu sudah diatur, petani di­ingatkan dan kalau sudah waktunya sistem irigasi bisa nyala sendiri dan akan menyi­ram tanaman mereka. Mati setelah 1 jam,” kata dia.

No More Posts Available.

No more pages to load.