Situasi gelap ini bakal menjadi pekat, mengingat polisi sudah ber-multi fungsi menjadi parcok, dan TNI mulai berdwi-fungsi dengan menduduki banyak posisi jabatan strategis. Termasuk pembentukan 150 batalyon baru, dari rencana total 750, dinamai: “Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan.”
Bayang-bayang Big Brother. Situasi represif, manipulatif, dan koruptif, ala era Orba bahkan kini lebih telanjang tak kenal malu. Era Orba setidaknya tidak menggunakan cara-cara pengecut mengirim bangkai atau telur busuk. Dengan alat represi KUHP dan KUHAP baru, polisi bisa menjadi Stasi (Staatssicherheit), “Big Brother” ala polisi rahasia Jerman Timur era 1950-an, menjadi alat represif demi “keamanan negara”.
Mengawasi wilayah privat dan ekspresi publik, untuk mengkriminalisasi secara politik. Stasi menjadi badan intelijen paling mengerikan dalam sejarah, menyimpan arsip informasi rinci dari kehidupan pribadi rakyat. Menjadi momok yang menyebarkan rasa takut rakyat Jerman Timur. Sebagaimana rakyat Indonesia pernah alami di era Orde Baru.
Otoritarianisme Orba telah tumbang melalui gerakan Reformasi, namun ia tidak hilang. Sepuluh tahun terakhir bertransformasi menjadi populisme, dan kini mengarah menuju fasisme. Indonesia seperti ulat yang gagal ber-metamorfosis menjadi kupu-kupu indah, untuk menyemai wangi bunga demokrasi. Alih-alih Indonesia menjadi mirip kecoak atau tikus pengerat. Elit politik-ekonominya (oligarki) berpesta dalam kegelapan, menguras kekayaan, di timbunan sampah kebebalan.









