Bangkitnya Orba, Dari Populisme ke Fasisme

oleh -156 views

Dari Populisme ke Fasisme. Ironi terbesar proses politik era reformasi, alih-alih menghasilkan sistem demokrasi yang terkonsolidasi, justru membangkitkan fasisme ala Orde Baru. Thanks to Jokowi, sosok populis yang dua kali dipilih rakyat — demi menolak Prabowo pada Pemilu 2014 dan 2019. Tapi justru karena motif ambisi dinasti imperialistiknya, Jokowi menggelar karpet merah untuk Prabowo agar berkuasa.

Jokowi bukan “darah biru” elit politik, dulu dikira bisa menjadi vaksin, antidote, bagi politik elitis yang cenderung otoriter. Tapi dengan modal populisnya, alih-alih mencegah, Jokowi justru memfasilitasi seteru politiknya, menduduki tahta kekuasaan. Melalui kalkulasi politik yang aneh, Prabowo hanya akan menjadi presiden transisi, untuk melanjutkan kekuasaannya, melalui proxy anak sulungnya. Satu politik transaksi yang sama sekali tidak memedulikan prinsip nalar politik etik.

Baca Juga  Lerai Bentrok Pemuda di Dobo, Personel Polisi Terkena Panah

Prabowo adalah quintessential produk darah biru Orde Baru. Sebagai menantu presiden Soeharto karir militernya melejit, namun kemudian ikut terjungkal bersama mertuanya, hingga harus kabur ke Yordania. Orba lebih jujur dalam sikap otoriter dan menerapkan sistem represinya, sebagai Big Brother yang ingin menegakkan negara Leviathan Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.