Biaya Operasi Militer AS di Iran Tembus Rp1,7 Kuadriliun, Terus Bertambah Meski Gencatan Senjata

oleh -6 Dilihat
Biaya operasi militer Amerika Serikat dalam konflik Iran dilaporkan telah melampaui US$ 100 miliar atau sekitar Rp1,7 kuadriliun, menjadikannya salah satu operasi militer paling mahal dalam beberapa tahun terakhir.

Estimasi Terus Naik

Pada akhir April, Departemen Pertahanan Amerika Serikat sempat memperkirakan total biaya operasi berada di angka US$ 25 miliar.

Namun, angka tersebut kemudian direvisi menjadi US$ 29 miliar, sebelum akhirnya melonjak hingga menembus US$ 100 miliar dalam pembaruan terbaru.

Lonjakan ini mencerminkan kompleksitas operasi militer yang masih berlangsung meskipun intensitas konflik telah menurun.

Konflik Belum Sepenuhnya Usai

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas setelah serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran, termasuk di Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Baca Juga  Jalan Taeno Atas Rusak Parah, Rovik Siap Koordinasi dengan Pemkot Ambon Cari Solusi

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Gencatan senjata kemudian diumumkan pada 7 April 2026, namun belum mampu menghentikan sepenuhnya aktivitas militer di lapangan.

Kehadiran Militer Tetap Dipertahankan

Upaya diplomasi lanjutan yang digelar di Islamabad setelah gencatan senjata juga belum menghasilkan kesepakatan damai permanen.

Kondisi tersebut membuat Amerika Serikat tetap mempertahankan sebagian besar kekuatan militernya di kawasan, yang pada akhirnya terus mendorong kenaikan biaya operasional.

No More Posts Available.

No more pages to load.