Blokade yang Datang Terlambat

oleh -87 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Lebih menarik lagi, ini bukan pemindahan biasa. Iran meningkatkan pemuatan tanker hingga hampir tiga kali lipat dari laju normal sebelum ketegangan memuncak. Sebuah langkah yang tidak dramatis di televisi, tetapi sangat menentukan di meja strategi.

Peta pergerakan minyak ini seperti catur laut yang rapi. Setidaknya 15 tanker berada di dekat pelabuhan Chabahar. Sekitar 96 kapal berlabuh di lepas pantai Malaysia, khususnya di sekitar Johor — menjadi titik utama transfer kapal-ke-kapal.

Sejumlah lainnya sudah memasuki Selat Malaka, bergerak menuju pasar utama: China. Dan sekitar 23 juta barel lagi sudah berada di timur garis yang oleh sebagian analis disebut sebagai “garis tol Amerika” di Teluk Oman — wilayah yang secara praktis berada di luar jangkauan intersepsi cepat.

Baca Juga  Empat Tim Lolos Semifinal Liga Champions 2025/2026, Ini Jadwal Lengkapnya

Dengan kata lain, ketika blokade diumumkan Trump, minyak-minyak itu sudah tidak lagi “di Iran”. Ia sudah menjadi komoditas global yang bergerak, berpindah tangan, bahkan mungkin sudah dibayar.

Maka, gagasan bahwa blokade akan melumpuhkan Iran menjadi problematis sejak awal. Blokade bekerja efektif jika ia mencegah arus keluar. Tetapi dalam kasus ini, arus itu sudah mengalir jauh sebelumnya.

Lebih ironis lagi, sebagian besar dari minyak tersebut — lebih dari 90% menurut berbagai pelacakan — mengalir menuju China, sering kali melalui armada “ghost fleet” yang mematikan sistem pelacakan mereka.

No More Posts Available.

No more pages to load.