BMKG Dukung Maluku Tingkatkan Mitigasi Hadapi Potensi Gempa Bumi dan Tsunami

oleh -37 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan siap mendukung Pemerintah Provinsi Maluku meningkatkan mitigasi guna mengantisipasi skenario terburuk akan potensi terjadinya gempa bumi dan tsunami di sebagian besar wilayah tersebut. Saat ini, BMKG sendiri memiliki 11 stasiun di berbagai wilayah di Kepulauan Maluku yang siap mendukung dan bersiaga penuh.

“Selain meningkatkan literasi bencana untuk masyarakat, tentu saja dengan mempersiapkan jalur-jalur evakuasi beserta rambu ke daerah yang dianggap aman, terutama di ketinggian,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya, Jumat (3/9/2021).

Selain itu, pemerintah daerah juga perlu mempersiapkan tempat evakuasi yang layak dan memadai untuk menampung pengungsi manakala bencana gempa dan tsunami menerjang Maluku.

Dalam kunjungannya ke Maluku, Dwikorita bersama kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, kepala Balai Besar BMKG Wilayah 4, koordintor provinsi dan beberapa kepala Stasiun BMKG di Provinsi Maluku, didampingi kepala BPBD Provinsi Maluku, kepala BPBD Kota Ambon, pakar gempa dan tsunami Universitas Pattimura serta peneliti Oceanografi LIPI, menyusuri zona bahaya bencana dan mengecek jalur-jalur evakuasi di Pantai Waskita, Tanjung Marthafons, dan Waihaong. Dwikorita beserta tim juga melakukan simulasi perhitungan waktu dan menentukan titik kumpul aman serta evakuasi jika terjadi bencana gempa dan tsunami.

Sejumlah rekomendasi yang diberikan BMKG terbagi dalam tiga waktu aksi. Rekomendasi short term (kurang dari 1 tahun) antara lain sosialisasi dan verifikasi peta bahaya dan peta risiko tsunami, penyiapan peta, jalur, dan rambu evakuasi yang memadai, inventarisasi dan penyiapan gedung/bangunan sebagai tempat evakuasi sementara, penguatan sistem peringatan dini, penguatan kapasitas BPBD dan tim siaga bencana untuk beroperasi, penyusunan rencana kedaruratan dan SOP evakuasi, serta pelatihan, dan gladi evakuasi secara rutin dan memadai.

Baca Juga  Malaysia Batasi Umur Pemuda Hanya Sampai 30 Tahun

Sementara rekomedasi mid term (2 – 3 tahun) yang diberikan BMKG antara lain penyempurnaan tata ruang dengan memperhatikan peta multibahaya, pengecekan bangunan strategis/vital (building code) untuk memastikan tahan terhadap gempa dengan magnitudo 7,8, relokasi, penguatan infrastruktur pantai rawan tsunami, dan perlindungan pantai rawan tsunami (penghijauan).

Adapun rekomendasi long term (5 tahun) antara lain evaluasi dan monitoring implementasi sistem mitigasi multi bencana, penyempurnaan tata ruang, dan penyempurnaan kebijakan daerah untuk mitigasi multi bencana.

BMKG sendiri, lanjut Dwikorita, juga akan turut melakukan langkah mitigasi dengan melengkapi berbagai data dan informasi pendukung perihal potensi bencana yang terjadi di Maluku dengan berkolaborasi bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Patimura, dan lembaga strategis lain.

Baca Juga  Warga KKSS Halmahera Selatan, Meriahkan HUT dengan Kegiatan Olahraga

“Saya optimistis, apabila jalur evakuasi dan rambu tersedia dengan baik, ada tempat evakuasi memadai, masyarakat sering dilatih evakuasi, bangunan-bangunan menerapkan building code, maka jumlah korban jiwa dan kerugian akibat bencana dapat diminimalisir,” tambah dia.

Sementara itu, Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Bambang S Prayitno menyebut, Indonesia termasuk Kepulauan Maluku adalah wilayah rawan gempa bumi dan tsunami karena merupakan pertemuan antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia.

Dikatakan, sejarah gempa kepulauan yang terkenal dengan rempah-rempahnya ini cukup panjang. Berdasarkan catatan Catalogue of Tsunamis on the Western Shore of the Pacific Ocean (1974) disebutkan bahwa antara tahun 1600 hingga 2015, terdapat lebih dari 85 peristiwa gempa dan tsunami di Maluku.

Sedangkan menurut Katalog Tsunami BMKG, dalam rentang waktu 1600-an hingga tahun 2006 telah terjadi 45 kali kejadian tsunami. “Fakta ini menjadi alarm bagi kita semua, terutama pemerintah daerah untuk menyiapkan upaya mitigasi lebih serius,” imbuhnya.

Baca Juga  Muhaimin Iskandar Minta Rencana Kenaikan Pajak Pangan oleh Pemerintah Dibatalkan

Bambang menuturkan, masyarakat pesisir Maluku harus dibekali pengetahuan yang cukup mengenai ancaman bahaya gempa dan tsunami. Tentang bagaimana cara menghindar, mengantisipasi hingga bagaimana mereka dapat pulih kembali dan bisa hidup harmoni dengan bencana.

Dikarenakan prediksi jarak antara waktu gempa dan tsunami sangat dekat, maka menurut Bambang masyarakat tidak perlu menunggu peringatan dini yang dikeluarkan pemerintah. Mulai dari sekarang masyarakat harus dibiasakan untuk melakukan evakuasi mandiri.

Bambang membeberkan, berdasarkan pemodelan ketinggian gelombang tsunami di Provinsi Maluku dapat mencapai angka 5-7 meter dari muka air laut. Dengan estimasi waktu tiba tsunami berkisar 1-7 menit.

Adapun masuknya gelombang tsunami ke darat di Kota Ambon diperkirakan dapat mencapai maksimum 1 kilometer dengan tinggi genangan maksimum diperkirakan mencapai 10 meter.

“Jika terjadi gempa, segera cari tempat aman. Tidak perlu menunggu peringatan dini atau sirine tsunami. Alarmnya adalah gempa itu. Kita berpacu dengan waktu. Semakin cepat, semakin besar kemungkinan selamat,” tuturnya. (red)