Boaz, Bumi Manusia dan Papua Kita

oleh -338 views

Karena itu, saya kaget ketika ciutannya di twitter menuliskan sebuah kalimat penuh satire yang bombastis. “Lebih terhormat mana? monyet cari ilmu di rumah manusia atau manusia yang cari makan di rumah monyet”. Ada apa dengan Boaz?. “Kemarahan” Boaz seperti mewakili ketersinggungan mayoritas kita, bukan cuma orang Papua. Guru Besar Emeritus Departemen Antropologi UI, Amri Marzali mengatakan, selama ini isyu Papua selalu dipaksa berkelindan dengan hubungan antara etnik dan politik. Kadang diperparah dengan asumsi rasial. Padahal para ahli population genetic sudah lama menafikan bahasan rasial ini karena sejatinya manusia hanya punya satu ras yakni homo sapiens. Perbedaan warna kulit adalah bagian dari adaptasi terhadap lingkungan. Orang Eropa misalnya, baru berubah dari hitam ke putih sekitar 8000 tahun yang lalu.

Baca Juga  Kisah Nabi Musa AS Memohon Kelancaran Berbicara kepada Allah

Kata monyet ini juga digunakan kawanan Belanda saat memanggil seorang anak Indonesia yang pandai menulis, Tirto Adhi Soerjo. Panggilannya Minke, plesetan untuk monkey. Minke adalah tokoh utama dalam novel Bumi Manusia karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer yang difilmkan oleh Hanung Brahmantyo dan tengah tayang saat ini. Saya membayangkan Pram sedang menatap jejeran pohon kayu manis yang berdiri angkuh dalam kesepian nun di pedalamam pulau Buru tahun 1975 saat menulis novel ini. Sebuah novel penuh perlawanan. Sebuah novel dengan banyak nilai kemanusiaan yang kadang secara sadar kita pertentangkan.