Di ujung telepon jauh di Jayapura, Izaac mendengar dengan sabar lalu meminta maaf jika dirinya tak punya waktu banyak untuk “mengurus anak anaknya” yang lagi kuliah di tanah Jawa. Ismail bertanya, “sesibuk apakah Bapak Gubernur hingga tak sempat datang mengurus mereka disini?. Dengan nada merendah, Izaac menjawab, “Saya sibuk mengurus anak anak Bapak, belasan ribu jumlahnya. Mereka datang sebagai transmigran, harus disiapkan tanah, makanan, air minum, tenaga perawat, sekolah dll”. Di kantor Gubernuran Semarang, Ismail terdiam. “Jadi tolong Bapak mengurus anak anak saya seperti saya dengan kasih mengurus anak anak Bapak yang pindah ke banyak tempat di Irian ini,” pinta Izaac.
Jauh sebelum Indonesia ini merdeka dan utuh, sejarah Tidore dan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin telah merekatkan kami. Kami disini bukan sebagai bayangan, sebuah imajinasi liar tetapi lebih pada rasa yang disatukan dalam komunitas bersama. Dalam bukunya, “Pemberontakan Sultan Nuku, Persekutuan Lintas Budaya di Maluku dan Papua Tahun 1780 – 1810”, Muridan Widjojo mengakui bahwa salah satu faktor kesuksesan Sultan Nuku mengalahkan Belanda dalam perang adalah karena dukungan orang Papua terutama yang mendiami gugusan kepulauan Raja Ampat yang tergabung dalam kerajaan Salawati, Waigeo, Batanta dan Misool. Mereka mengakui kehebatan Nuku mengangatnya sebagai Sultan untuk tanah Papua.




