Karena itu, dalam framming yang lebih milenial, menjadi sangat naïf ketika makian soal monyet, hitam, keriting dipersepsikan sebagai simbol orang Papua dan kerap digunakan dalam persekusi kolektif bangsa ini. Pertanyaannya adalah dimana nilai nilai Pancasila yang baru kemarin disuarakan dalam upacara kemerdekaan yang gegap gempita. Hanya dengungankah Pancasila itu?. Menurut Goenawan Mohamad, Indonesia yang jadi bagian dunia kini mulai terinvasi paranoia, kebencian dan kemarahan. Meski dalam skala kecil, jika dibiarkan secara sadar maka konflik yang berujung pemusnahan akan segera hadir.
Menurut saya, insiden di Malang, Surabaya, Bandung, Jogja, Medan dan Makassar yang meluas hingga pada pembakaran di Manokwari dan Sorong mestinya ditangani dengan pendekatan budaya dan sejarah. Dalam kasus penurunan bendera Merah Putih di asrama mahasiswa Papua, polisi tidak menemukan cukup bukti bahwa para mahasiswa itu yang menurunkan bendera. Tapi tuduhan separatisme berbalut rasialis kadung menyebar dan jadi pembenaran.
Pernyataan Wakil Walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko yang mengancam akan memulangkan mahasiswa asal Papua jika terus berulah di halaman rumahnya yang bernama Malang makin menegaskan kepicikan kita dalam memahami narasi budaya dan sejarah keadaban orang Papua. Sebagai jawaban untuk Sofyan Edi, saya kutip dialog antara Izaac Hindom, Gubernur Irian Jaya (1982-1988) dengan sejawatnya, Muhammad Ismail, Gubernur Jawa Tengah yang sangat layak jadi pengingat. Sebagaimana ditulis ulang oleh Andreas Harsono, suatu ketika Ismail menelepon Izaac. Berbasa basi sebentar lalu curhat soal kelakuan mahasiswa asal Papua yang bikin “resah”.




