“Jangan jadikan keterbatasan alasan untuk menolak jadi tuan rumah. Dulu saya pakai rumah warga untuk menampung para kafilah. Budaya Maluku itu menghormati tamu, dan saya yakin kita bisa,” tegasnya.
Ia juga mendorong para bupati/walikota agar berlomba menjadi tuan rumah MTQ 2026 dan STQH 2027, yang penentuan lokasinya akan dibahas dalam Rakor LPTQ yang dirangkaikan dalam kegiatan STQH ini.
Ia juga mengingatkan bahwa pembinaan prestasi anak-anak harus dibarengi dengan penghargaan nyata.
“Anak-anak ini bukan hanya membawa nama diri, tapi nama kabupaten, nama provinsi. Kalau kita serius ingin mereka berprestasi, maka pemerintah juga harus serius memberi penghargaan yang bermakna,” katanya dengan nada tegas.
STQH tahun ini kata Wagub, diharapkan menjadi batu loncatan dalam membentuk generasi Qurani menuju Indonesia Emas 2045. Dengan semangat kolaboratif antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat, Maluku optimistis bisa menorehkan prestasi di tingkat nasional bahkan internasional.
Wagub menutup dengan pernyataan semangat, “Kalau saya tidak berguna untuk rakyat Maluku, lebih baik saya kembali ke kebun. Tapi insya Allah, saya dan Gubernur Hendrik Lewerissa berkomitmen membangun fondasi yang kuat demi masa depan Maluku,” tandasnya.









