Radio “Rebelde”lah yang menyiarkan kemenangan pasukan Che saat merebut kota Santa Clara di malam tahun baru 1958. Siaran ini membungkam klaim Presiden Baptista yang dituliskan banyak media nasional jika Santa Clara tetap dikendalikan tentara dan Che tewas dalam pertempuran di sana. Jatuhnya Santa Clara di tangan pejuang revolusioner memaksa Presiden Baptista melarikan diri meninggalkan Havana. Ibukota kemudian dikuasai pasukan Che. Namun Ia memilih memberi panggung utama kepada Fidel Castro yang datang ke Havana sepekan kemudian.
Bagi Che, revolusi harus berujung pada keadilan. Menjadikan semua manusia sama dan sederajat. Karena itu, Ia memilih meninggalkan Kuba dan berkeliling mengobarkan revolusi di negara-negara yang masih terkungkung kediktatoran. “Jasa Marx adalah menghasilkan perubahan kualitatif secara mendadak di dalam sejarah pemikiran sosial. Ia menafsirkan sejarah, memahami dinamikanya dan memprediksi masa depan. Marx mengungkap sebuah konsep revolusioner ; dunia tak hanya ditafsirkan tapi harus diubah. Manusia tak lagi menjadi budak atau alat lingkungannya. Ia mengubah dirinya menjadi perancang takdirnya sendiri”. Begitu cara Che mendekap Marxisme yang Ia tulis dalam sebuah testimoni di Havana.









