Comandante

oleh -2 Dilihat

Yang menafsirkan sejarah, memahami dinamika dan memprediksi masa depan adalah sebuah thesa yang personal. Ia butuh comandante yang menggerakan. “Dunia tak hanya untuk ditafsirkan, tetapi juga harus diubah”. Tafsir terhadap “dunia” sejatinya telah dimulai beberapa tahun sebelum Indonesia mulai goyah dan beranjak genting di awal 1998. Yang harus “diubah” telah “ditetapkan”. Lahir dari diskusi-diskusi panjang yang tertutup. Ia tak bisa dilawan secara terbuka. Dan bergeraklah jejaring bawah tanah untuk memastikan yang “diubah” itu menjadi pasti.

Orang ramai mencatat dalam ingatan yang timbul tenggelam jika reformasi Indonesia yang mengakhiri rezim Soeharto hanya berkelindan dengan demonstrasi mahasiswa. Tak banyak yang mengerti, jauh sebelum itu – sebelum penculikan dan penghilangan paksa banyak aktifis, sebelum suara-suara demokrasi dan kebebasan dicelotehkan dengan gemas karena terus dibungkam, sebelum gerakan untuk “membebaskan” meledak dimana-mana – “persiapan-persiapan” sudah dimatangkan. Pamflet dan selebaran dibagikan oleh kurir yang menyusup dengan metromini, melintasi pasar dan gang sempit. Tulisan-tulisan Tan Malaka yang membakar revolusi Indonesia dulu digandakan ulang dan jadi bacaan ideologis. “Pager” jadi media berbagi pesan dan perintah. Rapat-rapat rahasia selalu berpindah tempat. Semua serba “klandestin”.

No More Posts Available.

No more pages to load.