Comandante

oleh -2 Dilihat

Saya mengikuti sebuah “seremoni” saat mereka bercerita. Apik sekaligus misterius. Catatan mereka makin menguatkan banyak testimoni sebelumnya bahwa sosok berjanggut lebat dengan topi rimba itu adalah salah satu kandil yang membakar api reformasi. Ia ada dimana-mana. Dalam penyamaran dan perlawanan bawah tanah, banyak aktifis yang tak saling jumpa. Tetapi semua aktifis itu mengaku jika mereka kerap bertemu Mas Goen yang datang di rapat-rapat rahasia, memberi semangat dan berbagi keyakinan. Di lapangan yang terus bergolak dalam senyap, Ia adalah “pemimpin”.

Setelah Soeharto lengser, Mas Goen memilih jalan yang sunyi. Jalan para penikmat seni yang hidup dengan karya untuk keabadian. Ia konsisten berjarak dengan kekuasaan. Ketika datang ke Ternate untuk promosi lakon “Den Kissot” bersama Teater Boneka di pelataran Benteng Orange, Mas Goen “memaksa” saya duduk menemaninya. Padahal di ujung kursi tamu, ada tempat untuknya tepat di samping Walikota Ternate. Ketika saya memberitahu tempat duduknya, Ia menolak pindah dan bergumam lirih, “Saya tak biasa duduk dekat pejabat”.

Baca Juga  Kapolda Maluku Minta Media Kedepankan Peace Journalism dalam Konflik Lisabata-Patahuwe

Sikapnya yang konsisten dalam berkarya dan membela kebenaran adalah bagian dari keteladanan yang semakin sulit di dapat saat ini. Kita masih butuh sosok “comandante” saat candu kekuasaan mulai meracuni logika dan akal sehat. Saat gagasan untuk mengkafirkan pilar-pilar reformasi yang banal mulai diapungkan dengan menambah waktu berkuasa Presiden. Kita tak boleh terperosok di lubang kesalahan yang sama. Tak peduli kedalaman lubang itu mungkin berbeda.

No More Posts Available.

No more pages to load.