Dalam kerangka ideal, ini adalah langkah menuju kedaulatan ekonomi—negara hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai aktor utama dalam rantai nilai global.
Risiko Monopoli dan Inefisiensi
Namun, kebijakan besar selalu datang dengan risiko besar.
Pertama, soal efisiensi. Pengelolaan oleh BUMN seringkali identik dengan birokrasi panjang dan lamban. Dalam dunia perdagangan global yang menuntut kecepatan dan kepastian, hambatan administratif bisa menjadi kerugian tersendiri.
Kedua, kekhawatiran akan praktik monopoli. Sentralisasi penuh berpotensi mematikan peran korporasi swasta dan mengganggu ekosistem usaha yang selama ini sudah terbentuk. Trauma terhadap model ekonomi sentralistik ala Orde Baru pun kembali mencuat.
Dalam perspektif ekonomi klasik, Adam Smith telah lama mengingatkan bahaya monopoli. Ketika satu entitas menjadi price maker, pasar kehilangan keseimbangan, dan konsumen berpotensi dirugikan.
Ketiga—dan ini yang paling krusial—adalah risiko korupsi. Sentralisasi berarti akumulasi kekuatan dan uang dalam satu titik. Tanpa pengawasan ketat, Danantara berpotensi menjadi “super holding” yang justru membuka ruang bancakan baru.
Jika itu terjadi, masalah tidak hilang—hanya berpindah dari korporasi ke BUMN.








