Daniel Dhakidae: Wakil Sebuah Generasi Intelektual

oleh -434 views

Pada akhirnya, apa yang menyatukan kami adalah kota kecil Ithaca, di daerah pegunungan New York, dimana universitas Cornell terletak. Kalau kami ketemu tentu saja bahan pembicaraan yang selalu hadir adalah gossip tentang para professor. Kebetulan beberapa professor Daniel juga masih mengajar saya.

Ada satu professor yang selalu jadi bahan pembicaraan. Dia terkenal brengsek karena tidak menyukai mahasiswa yang kurang cakap berbahasa Inggris. Tentu saja mahasiswa Indonesia atau Asia pada umumnya tidak bisa melafalkan kata-kata Inggris dengan baik. Atau tidak bisa berbahasa dengan tata bahasa yang baik.  

Professor itu pernah mengusir salah satu mahasiswa Indonesia karena dianggap tidak bisa omong Inggris. Saya pun pernah mengalami hal pahit seperti itu walaupun tidak dikeluarkan dari kelas. Saya cukup dihina selalu di depan kelas saja. Untungnya, saya tidak cakap berbahasa Inggris dan saya tidak tahu bahwa apa yang dia ucapkan adalah hinaan.

Baca Juga  Jelang Mubes IKA Unidar 2026, Panitia Audiensi dengan Rektor

Kami semua mengalami betapa sulitnya mengungkapkan pikiran dalam bahasa Inggris. Seorang kawan kelas Daniel, yang kemudian juga menjadi kawan saya, pernah bercerita bahwa kalau Daniel omong di kelas, tidak seorang pun mengerti. Betul dia menguasai bahasa Jerman (dan juga Latin dan Inggris). Namun itu justru yang menjadi soal. Tidak ada orang mengerti bahasa Inggris dengan logat Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.