Saya kira Daniel lebih memilih untuk memakai kekuatan intelektualnya untuk berbicara kepada orang dan anak-anak muda yang tertarik pada dunia berpikir. Dia berusaha keras agar generasi selanjutnya mampu melakukan analisis terhadap masayrakatnya dengan baik. Dalam hal ini, Daniel adalah seorang guru. Perannya sangat mirip dengan peranan guru-guru Flores tahun 1970an yang dikirim mendidik anak-anak dimanapun di Indonesia ini.
Ada persamaan diantara ketiga alumnus Cornell ini. Mereka sama sekali tidak dekat dengan kekuasaan. Mereka sangat kritis dan hampir selalu berseberangan dengan kekuasaan. Mereka juga tidak tertarik menjadi abdi rejim manapun.
Generasi Daniel secara perlahan sedang lengser. Satu per satu kita dengar mereka meninggalkan kita semua.
Dunia juga sedang berubah. Dunia intelektual Indonesia juga berubah. Kita menghadapi dunia baru. Sekarang dunia intelektual publik kita memang tidak didominasi oleh orang-orang yang berpikir mendalam seperti Daniel.
Saya sendiri melihat bahwa intelektual publik Indonesia berkembang cukup pesat. Hanya saja pusatnya tidak lagi pada institusi-institusi tradisional seperti universitas dan tidak menulis di jurnal-jurnal ilmiah.
Intelektual publik adalah seorang pemikir yang berbicara langsung kepada publik, melihat problem yang tidak dilihat orang kebanyakan, dan mengajak orang untuk berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah itu. Seorang intelektual publik memang tidak harus mencari jalan keluar dari masalah-masalah kemasyarakatan. Itu tugas kaum pembuat kebijakan, teknokrat, atau akademisi.









