Generasi Daniel Dhakidae berada di kedua kaki ini. Beberapa dari mereka pernah ditindas oleh Orde Baru dan masuk penjara. Namun mereka juga tidak dapat menomorduakan berpikir sebagai sebuah moda untuk melawan. Saya kira, Daniel berada persis di titik ini. Sekalipun dia tidak tertarik untuk mengorganisir perlawanan, dia tetap menyokongnya dengan pikiran-pikiran yang tajam.
Dalam hal ini, saya kira menarik untuk melihat posisi Daniel dan membandingkannya dengan dua alumni Cornell yang lain yang juga dikenal sebagai intelektual publik, George Aditjondro dan Dede Oetomo. George Aditjondro memulai karirnya sebagai seorang aktivis. Dia memakai kekuatan intelektualnya untuk mempengaruhi publik. Itulah aktivisme George.
Sementara Dede Oetomo memulai dengan dunia berpikir. Dia menjadi guru (dosen). Namun setelah menyelesaikan studinya di Cornell, Dede tidak sekedar menjadi guru. Dia memakai kekuatan intelektualnya untuk mengorganisasi kaum pinggiran. Dede pernah bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Selain itu dia juga mendirikan dan mengasuh gerakan Gaya Nusantara.
Sementara, Daniel berusaha untuk tetap berada pada level pemikiran. Dia tidak tertarik menerjemahkan kekuatan inteleknya untuk melakukan mobilisasi massa. Dia memilih jalan lebih sunyi: meriset, menulis buku, dan kemudian kembali mengasuh Prisma. Dia juga aktif di beberapa lembaga masyarakat sipil.









