
Tapi Daniel adalah mahasiswa cerdas. Dia lulus dengan baik. Bagian dari disertasinya yang selalu saya ingat adalah pembukaannya. Dia memulai disertasinya dengan sebuah “Confession” atau pengakuan dosa. Saya pernah berpikir untuk menyamakannya dengan Confession-nya Tolstoy.
Dalam pembukaan itu, dia menelusuri perjalanan intelektualnya berhadapan dengan dua penguasa. Yang pertama adalah penguasa yang mengaku sebagai wakil Tuhan di dunia. Tentu itu adalah birokrasi gereja Katolik. Yang kedua adalah penguasa dari dunia pengetahuan yang profan, yakni dunia academia.
Daniel selalu berbenturan dengan kekuasaan. Dia dikeluarkan dari seminari karena mengorganisasi sebuah seminar untuk mereformasi pendidikan imam-imam Katolik. Dia mendapat kesulitan untuk mempertahankan skripsinya di UGM bukan karena dia tidak mampu menulisnya. Dia harus memperlihatkan bahwa dia memiliki ijin penelitian. Tentu saja, dia tidak punya dan tidak mau mengurusnya.
Diluar kedua institusi itu, tentu saja Daniel berbenturan dengan kekuasaan negara. Dia pernah diinterogasi berjam-jam karena tidak memberikan jawaban sesuai arahan jaksa dalam kasus Sjahrir, seorang ekonom yang dituduh oleh pemerintah Orde Baru terlibat Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari 1974).









