Kita melihat banyak intelektual publik di sekitar kita. Mereka lahir dari beragam profesi: arsitek, pembuat film, talk-show hosts, atau tentu saja penulis-penulis yang makin kreatif dan banyak membaca.
Sudah tidak jamannya kaum intelektual hanya menjadikan perbincangan serius dan mendalam hanya sekedar sebagai intellectual exercise belaka. Ia tidak harus menjadi privilese kaum baca buku saja. Intelektualisme sekarang menjadi bagian dari kebudayaan pop.
Ia menjadi massal dan bisa diakses siapa saja tanpa harus paham hal-hal yang mendasar. Dan yang lebih penting lagi, dunia intelektual sekarang tidak lagi disertifikasi dengan ijazah PhD. Sementara di sisi lain, institusi berpikir seperti universitas dan academia sekarang semakin menjadi professional, birokratis, dan yang paling penting menjadi sebuah industri.
Konsekuensinya adalah kemampuan mencandra masalah kita menjadi semakin dangkal. Dunia intelektual semakin mudah jatuh ke dalam narsisisme. Belum lagi partisipasi bermacam self-intellect yang menelan mentah-mentah semua data palsu hanya untuk mempromosikan diri.
Saat ini menjadi intelektual publik jauh lebih berat. Pemikir diharuskan bekerja secara cepat saji (instant), analisis menjadi lebih dangkal, filsafat menjadi kemewahan, serta hal-hal tidak praktis menjadi tidak berharga.









